Ketika kumelihat langit cerah
Kurasakan panasnya matahari
Saatku pandang dekatnya bintang
Sulit ku rasa tuk memetiknya
Waktu obrolan janjiku laku
Temankupun berkurang satu persatu
Pernah ku dengar bisikan kenikmatan
Tapi kurasakan pahitnya penyesalan
Dan ..
Hingga ku terlena dedngan surge dunia
Kudapati siksaan neraka akhirat.
Untuk si pecundang
Hei
Orang orang yang masih duduk di sana
Dengan hati keluh kesah
Degan rasa gundah gelisah
Hei
Kenapa kata tak bijak itu kau tuturkan ?
Sedangkan omongan mereka kau degarkan
Tanpa pernah engkau kerjakan
Hei
Lembaran yang engkau anggap nyawakah yang engkau inginkan?
Lembaran suci terjaga itukah yang kalian hiraukan?
Ataukah seruan panggilan yang kau tinggalkan?
Demi sebuah keselamatan
Mungkin kau anggap ini dmi kehormatan
Ketauhilah kau hanya sekedar kotoran
Entah apa yang engkau lakukan?
Juga kau, begitu pula aku
Caci maki saja aku
Dan pula dirimu
Meski kau tak tahu
Pantaskah kata itu terucap
Dan pula rahasiamu terkuak
Karena kau salah bergerak
Engkau…
Masih tetap yang dulu
Masih sering mengadu
Dan pula aku
Lebih baik kau diam
Lebih baik aku membungkam
Mari kita lakukan.
Jalur dakwah tersendat
Bunda,
Kenapa langit hitam menyelimuti bumi
Bukankah matahari ingin bersinar lebih lama?
Bunda..
Kenapa lautan menenggelamkan matahari
Tidakkah air itu takut matahari?
Bunda,
Bumi ini gelap
Mereka tak bisa melihat
Meski mereka berbadan tegap
Tapi pikiran mereka tak kuat
Bunda… mengapa?
Matahari tak bisa bebas bersinar
Matahari kini sudah tak sabar
Mau kemana air ini disebar?
Nanti ku ajak dia ke fajar
Dan arah terbitnya tertukar
Ketika bumi tak lagi berputar
Tak ada lagi kata terlotar
Tinggal mereka yang menyebut “Allahu akbar” .

Tidak ada komentar:
Posting Komentar